Dua insan langit yang memiliki pesonanya masing - masing. Saat yang satu nun jauh di sana berupa sebuah titik kecil seperti kristal yang rapuh, dan yang satu membusur dengan megahnya berhiaskan berbagai warna. Saat yang satu bersinar di malam yang begitu gelap, dan yang satu akan nampak keindahannya ketika langit terang. Saat waktu adalah satu - satunya sekat.
Lalu anggap saja alam mengijinkan mereka untuk sejenak bertemu, akan seperti apa? Alam akan merubah keadaan menjadi seperti apa? Hitung itu sebagai sebuah keajaiban dan mereka pun bertemu.
Ketika mereka melihat satu sama lain, mereka melihat keindahan yang mereka belum pernah lihat sebelumnya. "Tidak ada yang menemaniku untuk menerangi dunia dengan berbagai macam warna seperti dia" "Belum pernah aku melihat benda yang berukuran sangat kecil, tapi tidak untuk kekuatannya dalam menerangi malam hari seperti dia." Dan, ya, mereka salut atas keberadaan dan keunikan satu sama lain. Senyum tak pernah lepas dari wajah mereka. Keajaiban terasa "semakin ajaib" ketika mereka bersama.
Seiring berjalannya watu rupanya alam tidak suka mereka berada bersama dalam keajaiban ciptaannya. Alam merasa miliknya ternoda.
Apa yang salah?
Apa yang membuat semua ini begitu tidak pantas terjadi?
Bahkan di dalam keajaiban fana pun, ini terlalu bodoh dan tidak nyata. Hari ke 24 saat itu, petir pun datang, memaksa mereka melepas genggaman erat tangan mereka dan mereka terhempas, sejenak kembali ke tempat mereka masing - masing. Detik terus berjalan tanpa ada niat menunggu mereka pulih, mereka kehilangan sebagian diri mereka. Tak mampu dan berat rasanya untuk memanjakan mata para makhluk bumi dengan pancaran yang biasanya begitu ceria dan penuh energi itu. Alam mempersempit bentangannya dan mereka merasa seperti sebuah raksasa di dalam kandang merpati. Ini terlalu sempit, ini tidak membuat mereka bisa bergerak dengan leluasa, dan ini sangat membuat mereka tidak nyaman. Besar kemauan untuk memberontak, membangun bentangan untuk mereka sendiri.
Ini bukan nasib, mereka bangkit untuk menciptakan nasib mereka sendiri. Sedapat mungkin mereka mengais - ngais keajaiban itu, menyatukan satu - satunya harapan mereka yang sudah menjadi kepingan, dan mereka kembali berada di sana, hanya saja keajaiban ini adalah murni milik mereka, dengan beberapa lubang yang merupakan "missing part". Mereka tinggal disana dengan beribu harapan yang hanya mengalir seperti air, lalu menguap karena sengatan matahari yang sepertinya sama seperti alam, mengharamkan kebersamaan mereka. Mereka terus berharap akan datangnya pelengkap keajaiban mereka.
Dan sepertinya sekarang saatnya lah yang tepat untuk menghadapi kenyataan, bahwa akan ada dentuman besar dari galaksi menghancurkan sisa - sisa keajaiban mereka. Dalam hitungan detik, semua milik mereka akan menjadi debu, tertiup angin, dan terpisah antar partikelnya. Bom waktu, ya begitulah sebutan yang pas untuk menggambarkan, bahwa sewaktu - waktu memang akan meledak.
Disinilah mereka sekarang, di dalam keajaiban, di dalam penantian akan kehancuran yang tak dapat ditawar, kebahagiaan dan cerita yang mereka tulis susah payah, berharap tak akan usang dilahap waktu. Akan terus bercahaya bersama - sama, dengan energi yang lebih disalurkan satu sama lain. Sehingga tak ada lagi penyesalan tersisa ketika dentuman besar itu datang, membuat kepingan keajaiban pun tak tersisa samasekali.
Seharusnya alam tahu, seharusnya alam mengerti, seharusnya alam sadar, bintang nampak indah ketika dilihat dari beribu - ribu kilometer jauhnya dari mata yang ingin dimanjakannya.
Seharusnya alam tahu, seharusnya alam mengerti, seharusnya alam sadar, pelangi nampak indah ketika hujan selesai menunaikan tugasnya, ketika setelah itu matahari rela keluar dari persembunyiannya di balik awan.
-Unknown
No comments:
Post a Comment