And He said to me, “My grace is sufficient for you, for My strength is made perfect in weakness.” Therefore most gladly I will rather boast in my infirmities, that the power of Christ may rest upon me.
Saya menuliskan ini beberapa menit setelah ayat diatas benar-benar terjadi di depan mata saya. Live, exclusive, tanpa perantara lain. Mulut ternganga lebar-lebar, menutupnya dengan telapak tangan dan amat sangat heran bahwa Tuhan yang saya sembah memang tidak main main baiknya. Frasa "God is good all the time" yang dulunya terdengan sangat klise di telinga saya kini tidak lagi.
Setiap tengah semester, atau 1,5 bulan sekali, saya akan dihadapkan dengan ujian. Berbeda dengan jurusan lainnya, kedokteran gigi memiliki 3 jenis ujian, yaitu Ujian Tulis, SOOCA (Student's Oral Objective Case Analysis) dimana itu full teori serta (yang jadi momok bagi saya), OSCE (Objective-Structured Clinical Examination). SOOCA dimulai Semester 3, sedangkan OSCE Semester 4.
OSCE adalah ujian dimana setiap mahasiswa menjelaskan ke dosen penguji dalam ruangan-ruangan yang terpisah mengenai setiap detail tahapan-tahapan yang harus dilakukan pada kasus tertentu. Mahasiswa diminta untuk memverbalkan dan memperagakan apa yang hendak dilakukan. Guess what? Saya paling tidak bisa mengurutkan sesuatu lalu menjelaskan tahap demi tahap secara runtun dan terperinci. Pasti ada saja yang terlewatkan. Dan benar saja, 2 dari 3 station OSCE pertama saya berakhir dengan nilai dibawah standar dan harus mengikuti remidi. Jarak hari antara SOOCA dan OSCE selalu berjauhan setiap kali ujian, bisa 4-5 hari. Namun tetap, saya selalu merasa keder duluan kalau sudah menjelang OSCE. Sejak saat itu, saya semacam pesimis dengan OSCE. Ini sifat jelek sih ya jangan ditiru. Saya semacam "halah kalau sudah gagal sekali ya kedepannya gagal juga wong emang kelemahannya disitu". Dan jujur, saya selalu menangis saking takutnya. Kenapa? Karena saya tahu ini benar-benar kelemahan saya. Saya bukan orang yang runtun.
UTS semester 5, OSCE kedua saya lulus 3 station dengan nilai yang sangat memuaskan. Namun, kembali lagi saya drop karena di UAS semester 5, saya kembali remidi 2 dari 3 station dan bahkan harus mengikuti remidi dua kali. Masuk ke semester 6, semua berjalan dengan lancar sampai tiba lagi di minggu ujian. Begitu saya melihat jadwal, ternyata SOOCA dan OSCE hanya beda satu hari. Kamis SOOCA, Jumatnya langsung OSCE. Secara akal manusia, saya langsung "wah ya sudah siap-siap remidi ajalah" namun Tuhan bilang "No, jangan andalkan dirimu sendiri. Ya memang kalau dirimu sendiri mana mampu belajar cuma satu hari? Andalkan Aku dan minta Roh Kudus pimpin kamu!" Saya tersadar, selama ini mungkin saya mengandalkan diri sendiri. Sering ngga sih kita meminta penyertaan dan hikmat setiap ujian namun apakah pada prosesnya kita mengandalkan Roh Kudus? Atau diri sendiri? Ketahuilah, yang memampukan kita adalah Roh Kudus jadi tanpa Roh Kudus ya kita bukanlah apa-apa.
Setelah saya mendapatkan hal tersebut, entah kenapa saya menjalani proses belajar (yang hanya 1 hari dengan bahan yang menurut saya banyak) dengan hati yang ringan, berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Saya selesai belajar dan pergi tidur seperti biasa. Urutan masuk saat OSCE diketahui oleh setiap mahasiswa pada beberapa menit sebelum masuk. Satu angkatan harus semuanya hadir pukul 7, mulai dipanggil jam 8, dan berakhir jam 2 siang. Dikarantina dalam 1 ruangan besar tanpa membawa apapun, termasuk buku, HP, makanan maupun minuman. Which means, nightmare kedua buat saya karena saya punya maag akut dimana jam 7-2 siang tidak makan dan minum. Well, saya benar-benar merasa berada di titik terlemah saya. Setelah ditunggu-tunggu, nightmare ketiga saya terjadi. Saya dipanggil paling terakhir, yaitu pukul 2 siang. Perut mulai rewel, kepala saya mulai berat, saya mencoba mengulang materi dan hasilnya kacau balau dan gagap nggak karuan. Saya berdoa untuk terakhir kalinya dan masuk ruang ujian.
Station 1 dan 2 bisa dibilang lumayan lancar. Namun di station 3, saya merasa saya sudah tidak bisa berkonsentrasi. Maag saya kambuh. Saya mulai mual dan tangan keringat dingin, mungkin dipicu juga oleh nervous dan stress. Setiap kata-kata yang saya keluarkan ngelantur dan tidak beraturan. Saya tidak bisa memperagakan serta memilih alat mana yang harus dipakai. Ditambah lagi, dosen penguji sudah mengerutkan dahi. Beliau sepertinya bingung saya ini meracau apa daritadi. Sampai pada akhirnya saya diam dan selesai menjelaskan, beliau berkata "Kamu nggak bisa loh nak kalau tidak runtun seperti ini. Kalau sudah saya klik (sistem penilaian menggunakan laptop), kamu tidak bisa kembali menyempurnakan langkah yang sudah terlewat karena ini sudah terkirim ke server dan langsung diproses nilai." Saya nggak sanggup berkata apa-apa lagi. Sampai akhirnya bel berbunyi, dan saya dipersilahkan keluar ruangan. Rasanya sudah tidak mungkin saya lulus.
Hasilnya keluar pagi tadi. Tuhan ijinkan saya lulus 3 station. Saya shock dan tidak menyangka karena di station 3, saya mendapat nilai sempurna. Saya tidak tahu itu nilai darimana, tapi yang saya yakini, semua tidak akan terjadi kalau memang Tuhan tidak ijinkan semua terjadi, bukan? Dan saya mengingat ayat dari 2 Korintus 12:9, bahwa justru di keadaan terlemah kita, kuasa Tuhan makin sempurna dan Tuhan tunjukkan pada saya hari ini.
Jadi, berserahlah dan tentunya tetap sambil berusaha. Karena Dia yang punya hidupmu, karena Tuhan adalah Tuhan. Mungkin bagi sebagian orang berpikir "Halah nilai doang. Gagal ya bisa diulang. Lebay" No, saya punya pertimbangan lain dan biarlah hanya saya dan Tuhan yang tahu. Tidak hanya di bidang akademis, mungkin kita juga punya pergumulan di bidang lain. Jangan pernah andalkan diri sendiri. Kita ini bukan apa-apa, kalau kita bisa itu bukan karena kita mampu tapi kita dimampukan. Tuhan Yesus memberkati :)
No comments:
Post a Comment