23 August 2017

And After This Picture You Guys Still Believe God Does Exist?

Semakin kesini, semakin saya menyadari bagaimana kita memprotect diri kita sebisa mungkin, terutama dari rasa disalahkan dan ditegur. It hurts our pride and when we deny it, we stop growing. Instead, people tend to blame others for any unfortunate events that happened. Seperti salah satu pemuda yang saya tidak sengaja baca tweetnya di Twitter.

Sebuah akun mempost beberapa foto yang menunjukkan 2 orang anak dari Afrika dengan tubuh begitu kurus kering sedang duduk, meminum air kubangan yang dikelilingi lumpur. Pemuda ini, dengan percaya dirinya dan tidak tahu dirinya, meretweet postingan tersebut dan ditambahi tulisan

"And after this picture you guys still believe God does exist?" 



Mari sama-sama berikan applause atau bila perlu standing ovation sekalian untuk pemuda yang satu ini atas pola pikirnya yang menyatakan bahwa "Jika memang Tuhan ada, mengapa masih ada hal semiris foto itu?"

Dia mungkin lupa, bahwa Twitter hanya bisa diakses melalui internet. Paket data internet di handphone membutuhkan budget. WiFi rumah pun demikian. Layanan internet gratis bisa juga didapatkan namun tetap harus mengeluarkan uang bukan paling tidak untuk sekedar membeli minum di cafe yang menyediakan.
Dia mungkin lupa, untuk mengakses Twitter selain butuh internet juga butuh piranti pintar (entah itu smartphone, laptop, komputer, maupun warnet) yang juga mengeluarkan biaya untuk membeli/menyewanya.
Dia mungkin lupa, jika dia masih bisa meretweet tweet tadi, tandanya dia masih bernafas, jantungnya masih berdetak normal sehingga bisa menyuplai darah dengan normal ke jemarinya untuk mengetik.

Kalau saja dia tahu, dengan keadaan saat dia ngetweet, dia memiliki lebih banyak dibanding sebagian besar warga Afrika dan daerah kelaparan lain seperti Calcutta.
Kalau saja dia tahu, dengan keadaan saat dia ngetweet, ada jutaan orang yang membutuhkan jantungnya berdetak dengan normal untuk membantu keluarganya mencari nafkah atau jika tidak, mereka tidak makan selama 1 minggu.

My point is, he got so much from God, why doesn't he help the unfortunate? Permasalahannya bukan di "Tuhan itu ada atau tidak", tapi di "Seberapa besar saya mau dan bisa bantu". Ayo sama-sama kembali mengingat pelajaran PPKN jaman SD dulu yang setiap saat diterangkan bahwasannya manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan.

Dari lahir, kita sudah butuh tangan orang lain untuk keluar dari kandungan Ibu, mulai dari dokter, perawat, petugas rumah sakit, atau mungkin hanya dengan bantuan seorang bidan. Bahkan ketika kita meninggal nantinya, jasad kita tidak akan mungkin masuk liang kubur sendiri, butuh orang lain juga yang membantu. So come on, masa iya sih hal sesimple ini tidak bisa dipahami dan malah mempertanyakan keberadaan Tuhan?

We absolutely can help them. Daripada ngetweet tidak penting dan tidak menghasilkan apa-apa, gunakan akses internet yang ada di genggaman masing-masing untuk cari tahu gimana caranya bantuan dari negara yang jauh ini bisa terjangkau sampai kesana. Saya cukup yakin kok, ada banyak foundation ataupun acara charity yang rutin membantu ke daerah kelaparan serta jalur berbahaya seperti Israel dan Palestina. Jaman kita saat ini sangat dimudahkan dengan internet, jika tidak memungkinkan memberikan barang, bisa juga kan berupa uang? Okay, for your information aja nih, bank di seluruh dunia itu sudah terconnect satu sama lain. Makannya tuh koruptor gampang kan kalau mau cuci uang di luar negeri. Kemudahan bisa dibuat sarana tidak baik sekaligus baik. Masa iya bisa beli sepatu harga belasan juta atau make up yang hanya ada di Eropa tapi bingung cara menyampaikan donasi ke luar negeri? :)

Don't forget, pray for them too. Mari mengucap syukur senantiasa, karena ketika kalian membaca blog saya ini, it means kalian berkecukupan. Tuhan itu adil, I tell you. Kurang-kurangin play victim dan mulai belajar melihat apa sisi yang baik dari segala keadaan. Simple, bayangkan bila saudara-saudara kita di Afrika dan seluruh dunia termasuk kita memiliki kekayaan dan aset dengan jumlah yang sama persis. Saya sih yakin saya tidak akan mengenal apa itu bersyukur. Tetapi saya yakin keadaan yang begitu mengenaskan disana bukan hanya sebagai pembanding semata ketika kita berdoa, namun Tuhan juga inginkan kita bergerak, do something for them. Biar apa sih repot-repot amat? Supaya mereka, di tengah-tengah peliknya permasalahan hidup dan gelapnya masa depan, mereka dapat melihat dengan nyata bahwa Tuhan hadir melalui diri orang-orang seperti kita.

Saya selalu suka mengibaratkan diri sebagai etalase. Iya, etalase, yang fungsinya hanya sebagai tempat untuk menyimpan barang yang bisa dilihat dari luar. Jika barangnya tidak ada, ya hanya sekedar lemari biasa. Tempatkan Tuhan sebagai "benda berharga" di dalam diri masing-masing so people can see Him through you.

2 comments:

Rebecca said...

Setuju banget. Tp untuk pertanyaan apakah Tuhan masih ada jika kejahatan dan penderitaan itu bisa terjawab dengan buku lee strobel. Saya pernah membaca dan menemukan penjelasan. Berkaitan dengan "kehendak bebas" sebagai manusia.

Olivia said...

Thankyou ce Becca buat rekomendasi bukunya!