08 November 2017

I Quit Instagram A Year Ago and This Is What I Got.

*upload foto*
*refresh page terus, mungkin aja ada yang sudah like*

"Ah ada 1! Lega"

*masih menunggu di page yang sama, mungkin kali ini 2 likes atau bahkan comment *

"Nah kan beneran ada! Balas ah~"

Skenario di atas terjadi berulang-ulang setiap kali saya posting 1 foto baru di akun Instagram saya. Padahal, untuk memutuskan upload 1 foto membutuhkan pertimbangan dan proses editing yang cukup lama, belum lagi memikirkan caption yang eye catching sehingga betapa berapa banyak likes yang saya dapat untuk 1 foto bisa mempengaruhi saya secara personal, mulai dari yang "Memang oke sip nih fotoku" sampai ke "Aku memang nggak semenarik cewek-cewek lain yang pose dikit langsung ratusan yang ngelike"

Tidak jarang, saya berpikir keras bagaimana orang-orang di Instagram ini begitu nampak selalu perfect foto serta anglenya. Mulai dari apa yang dipakai saat itu, make up, tempat yang mendukung, hingga pose. Saya pernah mencoba foto seniat itu, dimana semua dipikirkan matang-matang di kepala saya, namun gagal total dan disitu saya menyadari seniat-niatnya saya, niat mereka jauh lebih besar. Hal lain yang menurut saya sangat wow adalah istilah "nggak mau feedsnya berantakan". Maksudnya, 3 foto yang diunggah secara berurutan saat itu haruslah di satu moment yang sama dengan pose berbeda, atau minimal nuansa warna yang sama. Saya bahkan menemui 1 selebgram yang setiap 9 foto nuansanya diatur menjadi 1 warna. Luar biasa niat saya akui.

Belum lagi, Instagram saat ini dilengkapi fitur Snapgram. Pindah tempat sedikit, rekam. Nonton konser, rekam. Fancy meal, rekam. Acara keluarga dan teman, rekam sampai-sampai orang bicara tidak dihiraukan. Bahkan nonton film yang box office dan berkesempatan nonton di awal-awal tayang di bioskop, di rekam pula. Bingung mau makan apa? Gampang, adakan polling di snapgram. Untuk urusan perut sekalipun, Instagram memberikan fasilitas untuk orang lain ikut campur.



Lalu pikiran saya berlanjut, kira-kira berapa lama ya setiap dari kita menghabiskan waktu untuk memikirkan account page Instagram masing-masing? Mulai dari pengambilan foto hingga bertengger di timeline followers. Tibalah saya pada suatu keputusan: I have to quit Instagram before it gets worse. And I did it a year ago.

Berapa banyak dari kita yang bawaannya ke arah iri bahkan nyinyir ketika orang lain mempost sesuatu yang bagus?
Berapa banyak dari kita yang akhirnya selalu tidak mau kalah dari orang lain ketika ada trend cafe baru atau style baru dan ingin cepat-cepat mengikutinya sebelum lewat masanya?
Berapa banyak dari kita yang melihat hijaunya rumput tetangga dan akhirnya lupa menyirami rumput sendiri sampai lalu menjadi kering dan layu?
Berapa banyak dari kita yang sulit untuk mengucap syukur karena setiap hari disuguhi "tayangan" betapa indahnya hidup orang lain?

Semua hal di atas sangat membuang waktu, I tell you. Ada banyak hal yang lebih penting yang harus dipikirkan serta dikerjakan dibanding scroll timeline ditambah explore page yang makin lama makin random.

Siapa yang bisa menjamin hidup seseorang memang benar adanya sebahagia postingannya di Instagram? Tidak ada. Everything is not what it seems. Betapa fokusnya kita terhadap kebahagiaan orang lain sampai lupa bahagia. Tuhan berikan hidup bukan untuk itu. Justru, semakin orang itu berusaha menunjukkan bahwa hidupnya sempurna dan bahagia, sebenarnya malah kebalikannya. Karena jika memang benar-benar bahagia, mengapa perlu ditunjukkan ke orang lain? Kebahagiaan itu bukan ditunjukkan, melainkan dibagikan. Dua hal ini berbeda tentunya.

Bicara soal trend saat ini, trend tidak hanya perkara apa yang nampak di luar. Saya pernah membaca cerita seseorang yang menyaksikan anak-anak perempuan SMP ramai-ramai merokok di toilet umum sampai naik ke wastafel untuk duduk dan berpose di depan kaca. Ketika mendengar mereka mengobrol, ternyata mereka sedang menirukan seorang selebgram yang yah sebenarnya sangat tidak berfaedah namun bagi mereka, selebgram ini adalah role model. Mengerikan.



Dengan non-aktifnya saya di Instagram selama 1 tahun ini, saya lebih mudah mengucap syukur, karena saya membatasi akses saya untuk melihat kehidupan orang lain. Saya tidak bilang bahwa kita harus hanya berfokus pada diri sendiri. Lihat hidup orang lain juga, ketika mereka butuh bantuan, hadirlah. Temani ketika mereka menangis dan butuh dihibur. Namun, fokus untuk pertumbuhan diri sendiri menjadi pribadi yang lebih baik juga tidak kalah pentingnya. Terkadang terlalu fokusnya kita dengan hal-hal yang ada di permukaan membuat kita lupa bahwa sebenarnya pertumbuhan mental serta spiritual kita sedang stuck. 

Saya menjadi lebih mudah untuk membangun real relationship with real people around me, bukan relasi internet semata. Kakak kelas yang dulu saya hanya berani sapa lewat komen Instagram, kini saya sapa di kehidupan nyata ketika kami berpapasan di rumah sakit. Saya juga semakin menyadari waktu yang kita miliki bersama keluarga dan teman itu berjalan mundur. Selagi mereka masih sehat dan ada di sekitar saya, sebisa mungkin saya ingin habiskan waktu dengan mereka. Mari kembali dekat dengan yang sudah jauh karena adanya media sosial.

Saya juga tidak perlu lagi merasa ada kewajiban untuk mencoba mendapatkan foto paling perfect untuk diunggah karena sudah lama tidak memperbaharui feeds. Saya tidak lagi merasa terikat. Nilai diri saya tidak ditentukan dari likes dan comment yang saya dapat, namun dari bagaimana saya melihat diri saya sendiri. Orang lain bisa berpendapat macam-macam, but the thing that matter the most is how I react. Saya tidak perlu merasa berkwajiban followback orang-orang yang sebenarnya saya tidak berkenan hadir di timeline saya lalu atas nama sungkan saya akhirnya follow dengan terpaksa. Mengurangi polusi mata sebaiknya memang secara berkala dilakukan karena we are what we see everyday. Saya tidak perlu merasa sungkan karena tidak men-like postingan teman karena memang saya tidak suka. Selain itu, baterai handphone jauh lebih irit, karena tidak ada notifikasi likes yang masuk berderet dan jatuhnya jarang buka handphone. The list can go on and on if we talk about what great things I've got after quit Instagram. Intinya, jangan sampai kita menjadi budak sosial media. Manusia makhluk sosial, namun bukan makhluk sosial media.

Oh ya, saya lupa menceritakan kekurangan dari saya tidak lagi main Instagram. Saya jadi "kolot" karena saya baru tahu snapgram ternyata ada filter mirip Snapchat dan Boomerang sudah tidak se-special dulu lagi karena ada fiturnya di snapgram. Yah, saya tidak rugi-rugi amat ternyata :D

No comments: