07 August 2021

The Throne

Hari-hari ini diingatkan banyak tentang dua hal besar, yaitu tahta dalam hati dan ekspektasi. Keduanya saling mempengaruhi dan berkaitan erat.

1. Tahta dalam hati
Kalau bisa diibaratkan, dalam hati manusia terdapat satu kursi tertinggi, dimana kursi tersebut bisa diisi oleh apapun dan siapapun, tergantung sang pemilik hati mempersilahkan siapa / apa yang masuk. Kita semua tahu teorinya, bahwa seharusnya Tuhan yang menempati kursi maha tinggi tersebut. Namun tanpa kita sadari, dan jika kita tidak rajin mengecek diri dan hati, tahta tersebut seringnya diisi dengan sosok yang tidak seharusnya ada di sana.

"Tidak seorang pun dapat bekerja untuk dua majikan. Sebab ia akan lebih mengasihi yang satu daripada yang lain. Atau ia akan lebih setia kepada majikan yang satu daripada kepada yang lain. Begitulah juga dengan kalian. Kalian tidak dapat bekerja untuk Allah dan untuk harta benda juga."
Matius 6 : 24 BIS

Jika kita tidak waspada, posisi Tuhan yang seharusnya pertama dan utama akan tergeserkan dengan hal lain, dan ketika itu terjadi, secara otomatis kita sedang tidak lagi menundukkan diri kepada Tuhan. Hati kita sudah tidak tertuju padaNya lagi dan segala yang kita lakukan akan mengarahkan kita kepada keserakahan, karena jelas hal-hal duniawi di luar Tuhan, sejatinya semata untuk kepuasan diri sendiri.

Sudah banyak contoh yang sering kita dengar bagaimana jika hal-hal fana seperti uang, popularitas, jabatan, sampai nilai ujian / IPK kita biarkan menguasai diri ini. Lalu muncul pertanyaan, bagaimana jika sosok yang menempati tahta tertinggi dalam hati bukan berupa hal-hal yang tadi saya sebutkan, tapi sesama manusia? Taruhlah misal keluarga, teman, pasangan hidup? Apa salah jika sayang dengan orang-orang terdekat ini? Mari kita sambung ke bagian kedua, yaitu

2. Ekspektasi
Tidak ada yang salah dengan menyayangi orang-orang terdekat kita, namun ketika sayang itu tidak diimbangi dengan hikmat, efeknya tentu berbeda. Loving someone too much until it hurts would only leads us nowhere but disappointment and what is the root of all disappointment? Yes, expectation. Ingat, kepada siapa kita biarkan tahta tertinggi dalam hati ini diduduki adalah sosok yang sama yang kita berikan pistol berisi peluru bernama kekecewaan. Jangan pernah anggap remeh seseorang yang sudah dikecewakan berkali-kali, manusia dilengkapi kemampuan bertahan (defense mechanism) oleh Tuhan. Wujud pertahanannya bisa beragam, tidak menutup kemungkinan seseorang bisa mati rasa, tak lagi bisa membedakan mana kasih yang sesungguhnya dan mana yang hanya sekedar kedok belaka. 

Di salah satu video Majelis Lucu Indonesia, Coki Pardede dan Tretan Muslim pernah berbicara mengenai konten seorang Youtuber yang dinilai tidak mendidik. Lalu intinya mereka bilang, kurang lebih seperti ini:

"Kita tidak bisa asal menuntut seseorang melakukan hal-hal tertentu, walaupun itu baik dan benar. Jika kita mendapati konten seorang Najwa Shihab tiba-tiba berubah menjadi konten prank, kita boleh memprotes beliau. Tapi jika "orang ini" yang kita tuntut untuk membuat video yang mendidik, saya rasa yang salah bukan "orang ini", tapi ekspektasi Anda yang harus diubah."

Saya sadar betul mereka sedang secara tidak langsung melontarkan sindiran yang cukup menohok untuk "orang ini" mengenai kemampuannya dalam membuat konten Youtube. Setelah saya renungkan lagi, omongan mereka ada benarnya. Poin pentingnya adalah, ketika kita menuntut sesuatu dari seseorang yang kita sadari dia tidak bisa (atau mungkin belum untuk saat ini) penuhi, yang salah bukan dia, tapi ekspektasi kita, karena kita punya kuasa penuh atas ekspektasi tersebut. Tidak mengecilkan kemampuan seseorang untuk menjadi lebih baik, namun akan jauh lebih baik jika orang yang kita sayang berubah bukan karena tuntutan, namun dari pembaharuan akal budinya sendiri. Manusia tidak bisa mengubah manusia lain. Semakin dipaksakan, semakin kita sering melontarkan ekspektasi yang berkedok "ini-semua-demi-kebaikan-kamu-sendiri", sesungguhnya kita justru sedang menyakiti mereka dengan ekspektasi kita.

Lalu, apakah harus diam saja ketika melihat orang yang kita kasihi "berkelakuan buruk padahal sebenarnya berpotensi menjadi lebih baik"? Tentu tidak, bawa orang tersebut dalam doa, dan biarkan Tuhan mengerjakan bagianNya. Sesekali, tidak menutup kemungkinan, Tuhan pakai kita untuk perpanjangan tanganNya dalam misi mengubah seseorang. Tahu dari mana saat itu akan datang? Nah disinilah peran hikmat terletak. Mencintai seseorang yang diimbangi dengan hikmat akan membawa orang tersebut tidak hanya lebih baik, namun juga ia dimampukan melihat kasihNya secara utuh.

Jawabannya sudah jelas, biarkan Tuhan yang menduduki tahta tertinggi tersebut, dan biarkan diri kita berekspektasi sebesar-besarnya padaNya, karena Dia tidak pernah mengecewakan, Dia tidak pernah ingkar janji, Dia tidak pernah terlambat, dan Dia tau apa yang terbaik untuk kita saat ini. Tidak ada sosok manusia atau hal duniawi lainnya yang bisa melakukan se-perfect yang Tuhan lakukan.

Mari sama-sama berefleksi. Lontarkan pertanyaan ini pada diri sendiri dan jawab dengan jujur:
Siapa / apa yang saat ini berpotensi menyakiti hatiku paling besar?

Ada di urutan ke berapa Tuhan saat ini?

Mau sampai kapan membiarkan diri dan hati dikecewakan berulang-ulang oleh hal-hal yang dunia tawarkan, entah itu berupa materi maupun dalam wujud manusia lain?

No comments: