2006, saya bersama beberapa teman dari ekstrakurikuler tari menanti dengan was-was, siapa yang akan dipilih oleh pelatih untuk tampil mewakili sekolah kami dalam ajang tari cukup bergengsi saat itu. Singkat cerita, saya bukan salah satunya. Saya pulang dengan sedih, sekaligus bertanya-tanya, apa memang saya tidak berbakat. Di hari itu, saya diijinkan merasakan pahitnya kenyataan tidak dipilih.
Paduan suara merupakan wadah untuk saya menyalurkan hobi menyanyi yang mungkin tidak banyak orang ketahui. Dalam beberapa performance, pelatih menentukan beberapa bagian yang ada baiknya dinyanyikan solois. Namun, saya pun tak pernah terpilih untuk dipercaya mengambil bagian tersebut. Ah, here we go again.
"Saya bingung, hati dan mata saya kalut sekarang. Saya tahu kamu sedang menjalin relasi dengan saya dan dia hadir di tengah-tengah kita saat ini, namun saat ini saya sedang menjadikan kalian berdua pilihan." Tidak ada pembicaraan lagi setelah itu, dan saya akhirnya sadar, lagi-lagi, saya tidak dipilih.
---
Saya sudah lama melupakan sebenarnya, namun entah mengapa di suatu sore ketika sedang mengemudikan mobil, topik "tidak dipilih" muncul ke permukaan dan saya sadar saya belum punya closure untuk ini. Salah satu harapan saya tahun ini adalah menyelesaikan segala akar kepahitan dari masa lalu dan ini saya anggap adalah kesempatan dari Tuhan untuk saya mencari penyelesaiannya.
Saya tidak akan memburu maaf dari orang-orang yang terlibat di dalamnya, karena saya sudah memaafkan dan itu sudah terjadi sangat lama. Namun harus saya akui, bahwa lukanya selama ini hanya saya abaikan, tidak berusaha saya obati dan sembuhkan. Mungkin "bau busuknya" baru muncul ke permukaan sekarang. Penyelesaian yang saya harapkan adalah bagaimana saya berdamai dengan kenyataan, bahwa menjadi sosok yang tidak dipilih pada saat itu bukan hal yang kecil dan berdampak pada cara saya melihat diri sendiri. Pahitnya rentetan kejadian tersebut membuat saya secara tidak sadar menanamkan dalam diri bahwa saya tidak akan pernah layak untuk dipilih, saya kurang dalam aspek hidup manapun dan sampai kapanpun akan demikian.
Pengalaman setiap orang bisa bermacam-macam, namun mungkin beberapa dari kalian yang membaca ini bisa mengerti apa yang saya rasakan. Bagaimana rasanya melihat orang lain bahagia karena sudah dipilih, lalu kita melihat diri sendiri dan mendapati penuh dengan rasa kecewa, kurang, dan tidak berharga.
"Mengapa dia yang mendapat beasiswa, bukan saya?"
"Saya sudah menjadi sosok pasangan yang baik dengan mengusahakan segala yang saya bisa, namun kenapa harus orang lain?"
"Pekerjaan apapun saya kerjakan dengan baik dan teliti, hampir tidak ada salah. Namun mengapa bukan saya yang berhasil naik jabatan?"
Dunia mungkin tidak memilih kita, namun Allah sudah menetapkan pilihanNya. Ia memilihmu!
Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.
Roma 8: 28-29
Tuhan ternyata sudah memperlengkapi kita dalam rangka mencukupkan salah satu hal dasar yang kita butuhkan: being the chosen one. Darimana bisa tahu? Tuhan menciptakan manusia sesuai gambar dan rupaNya, lalu memanggil, dan semua yang mendengarkan panggilanNya akan dibenarkan, kemudian mendapat hadiah yang dunia tidak akan bisa berikan: kemuliaan dari Tuhan. Saya menekankan di kata mendengarkan bukan tanpa alasan, namun Allah ingin kita juga aktif dalam mengerjakan kemuliaan dan keselamatan dariNya. Dengan kata lain, Tuhan ingin dengan kesadaran penuh, kita juga memilihNya. Pertanyaannya sudah bukan lagi "Apakah aku dipilih Tuhan?" namun "Apakah aku memilih Tuhan?"
Dengan kita menyadari bahwa Raja dari Segala Raja sudah menetapkan pilihanNya dan kita memilih untuk menyambut pilihan tersebut dengan hidup sesuai Firman, kita tidak akan lagi terbelenggu dengan penilaian diri yang salah dan memaknai hidup dengan berbeda. Kita tidak lagi pusing dengan apa yang dunia lakukan dan tawarkan karena sibuk dan terlalu fokus mengerjakan apa yang Tuhan sudah letakkan dalam diri sendiri. Saya belajar, mengikut Tuhan, dengarkan dan kerjakan panggilanNya bukan lagi soal Tuhan mengubah situasinya, tapi Tuhan mengubah cara pandang saya. Bukan karena Ia tidak cukup berkuasa untuk mengubah keadaan, namun karena kasihNya yang begitu besar, Ia mau ciptaanNya yang paling mulia ini akan lebih bersinar di tengah dunia yang semakin gelap.
Ke depannya, tidak ada yang tahu apakah kita akan mengalami penolakan-penolakan dalam wujud yang lain, namun biarlah fakta bahwa Tuhan selalu berada di pihak anakNya yang senantiasa mengusahakan hidup dalam Firman menguatkan kita dalam menghadapi apapun itu.
No comments:
Post a Comment