Saya tumbuh di era film Petualangan Sherina sedang hits di tahun 2001. Saya ingat betul bagaimana film tersebut saya putar berulang-ulang di VCD rumah pada saat itu dan mengagumi bagaimana Sherina menjadi sosok yang tangguh dan sangar.
Tanpa saya sadari, saya menjadikan tokoh Sherina itu role model. Saya mulai berpakaian tomboy, suka pakai Handsaplast di sekujur badan padahal tidak sedang luka, suka menyanyikan semua soundtrack nya (dan hapal!). Bahkan saya meminta kepada orangtua saya untuk pergi ke Bosscha, Bandung tempat dimana Sherina dan Sadam baikan. Untungnya bagian lebih suka makan permen cokelat daripada nasi tidak saya ikuti, karena saya tahu permen cokelat tidak bisa dimakan dengan ayam goreng, rawon, dan pecel lele favorit saya. Hal itu berlangsung sampai 2006 ketika saya menginjak 6 SD, dimana Mama saya yang awalnya "bodo amat" jadi senewen tiap hari karena melihat salah satu anak perempuannya yang beranjak remaja tidak mau pakai rok dan selalu pakai sepatu kets. Senewen sampai di tahap setiap hari saya diomeli dan saya jadi berontak karena merasa tertolak. Sampai disini saya harap kita semua menyadari seberapa pentingnya sosok panutan.
Doa serta jeritan hati seorang Mama sepertinya cukup kencang. Tuhan mendatangkan sosok baru dalam kehidupan remaja saya yang labil tepat saya mulai masuk SMP, dimana anak-anak seusia saya sudah mulai mengerti fashion and how to dress up. Sosok yang sangat berkebalikan dengan Sherina, yaitu Gita Gutawa yang pada saat itu baru pertama kali muncul di dunia entertainment.
Look how lovely and cute she was! Jiwa tomboy saya berbalik 180 derajat. Saya mau cantik dan imut seperti dia, saya pikir. Akhirnya jadi suka pakai rok, bando dan makin suka bernyanyi karena mengetahui suara Gita Gutawa ini bagus and sound so pretty. Again, role model was very important to me back then. Ketika saya beranjak dewasa lalu mengingat bagaimana kedua hal yang bertolak belakang itu bisa terjadi, saya menyadari bahwa hidup kita tidak lepas dari fase meniru.
Tidak hanya meniru dalam rangka belajar berbicara, namun anak-anak meniru bagaimana kita bertingkah laku, sudut pandang yang diambil dan cara mengatasi masalah serta respon utama dalam segala hal.
Tidak hanya meniru dalam rangka belajar berbicara, namun anak-anak meniru bagaimana kita bertingkah laku, sudut pandang yang diambil dan cara mengatasi masalah serta respon utama dalam segala hal.
Ketika orangtua mengajarkan anaknya untuk makan di meja makan namun di depan mata anaknya sendiri si orangtua makan di depan TV, saya yakin untuk urusan mengajarkan makan di meja makan adalah hal yang paling bikin frustasi. Ketika di sekolah gencar slogan "jauhi rokok dan minuman keras" tetapi setiap malam pemandangan di halaman depan rumah adalah Ayah yang merokok dan minum-minum, tidak butuh waktu lama untuk si anak meniru, padahal tentu saja sang Ayah tidak pernah mengajarkan anaknya demikian.
Contoh diatas saya harap tidak diartikan pasti 100% yakin orang tua akan sama persis dengan anaknya. Banyak juga kasus-kasus yang tidak demikian. Sadarilah bahwa nilai-nilai yang diajarkan, entah dalam agama, adat istiadat atau bahkan pelajaran PPKN bagi saya masih abstrak jika diberikan pada usia anak-anak. Abstrak karena mereka membutuhkan pemahaman yang lebih untuk bisa mengerti dan melakukan hal yang mungkin seumur hidup mereka tidak pernah alami / diajarkan. Contoh nyata di depan mata bagi mereka akan lebih mudah ditiru tentunya, entah itu baik atau buruk. Syukur-syukur mereka tumbuh menjadi anak yang berakal budi dan tahu mana yang patut ditiru dan tidak. Namun, bagaimana jika mereka gagal sampai di tahap tersebut dan waktu terus berjalan hingga karakter mulai terbentuk? Saya rasa hal ini penting disadari bagi kita yang memang terpanggil untuk menikah dan punya anak, bahwa bagaimana anak ini bertumbuh tidak bisa kita serahkan sepenuhnya pada waktu dan pelajaran di sekolah, namun sudahkah kita menjadi orang tua yang pantas untuk menjadi role model bagi mereka?
Okay, mungkin sebagian besar dari kalian berpikir "Ya itu kan untuk yang sudah menikah dan punya anak saja. Saya masih single kok, masih pelajar bahkan. Buat apa berpikir sampai disana?" Jangan salah. Hal menarik yang saya dapatkan ketika merenung soal ini adalah dimanapun, apapun status kita saat ini, dan kapanpun kita adalah role model juga untuk seseorang! Kehidupan kita bagaikan buku yang terbuka dan orang lain bisa melihat. Beberapa di sekitar kita mungkin saja menjadikan kita panutan, entah itu junior di sekolah / kampus atau bahkan saudara / teman yang usianya lebih muda dari kita. Who knows. Itu bukan ranah kita untuk tahu, tetapi yang menjadi tanggung jawab kita masing-masing adalah bagaimana kita menjaga cara hidup dengan benar.
Kembali lagi ke cerita saya dan mengingat betapa pentingnya sosok panutan, yuk sama-sama berefleksi, siapa role model kita selama ini? Sudahkah sosok tersebut pantas menjadi panutan dan membawa hal-hal baik untuk kita tiru? Apa yang bisa kita lakukan, sebagai panutan seseorang di luar sana, agar bisa menjadi dampak?
Selamat merenung!


No comments:
Post a Comment