Semakin kesini saya semakin menyadari bahwa rasa tidak mau disalahkan setiap orang kelewat besar sehingga terkadang argumennya tidak masuk samasekali. Memang, siapa yang mau terus-terusan disalahkan dalam suatu situasi. Namun jika memang kita salah / sebenarnya malah tidak ada masalah, haruskah jadi kesalahan orang lain? Should we always put the blame on others in order to keep us feel good about ourselves? Lemme tell you an example for this. Cerita semacam ini pasti sering sekali kalian dengar baik dari teman kalian atau mungkin, kalian sendiri lakukan.
Saya sangat geli sekaligus heran atas pernyataan seorang teman yang bercerita bahwa bagi dia si A ini aneh. Alasannya adalah mereka sudah saling kenal, namun tidak dekat memang. Ketika ada satu situasi dimana teman saya ini berpapasan dengan A dan A tidak menyapa duluan, dia kesal. "Saya lihat dia, saya juga tahu dia lihat saya, namun karena saya bukan tipe orang yang menyapa duluan, ya saya biarkan saja. Eh, malah anaknya lewat saja tanpa menyapa saya, kayak orang nggak pernah kenal. Aneh"
You. must. be. frigging. kidding. me. right. WHAT KIND OF LOGIC IS THAT?
I mean, if you don't feel like saying hi first, just admit it. No need to throw a fit to him/her. Lalu "bukan tipe yang menyapa duluan?" Baik jika memang itu alasan utamanya, then why you make such a fuss? Ya sudah. Dia sendiri yang membatasi dirinya dengan tembok "tipe saya bukan menyapa duluan", then don't ever hope someone to climb your wall. The world doesn't work like that, honey. Kita salah besar ketika berpikir bahwa orang lain yang akan selalu menyesuaikan diri ke kita dan mengikuti "pola" kita, dengan harapan kita mendapatkan perasaan semacam "Kamu yang butuh saya, bukan saya yang butuh kamu." Keep thinking like that and see it for yourself what's gonna happen.
Well, I have to say this. I really hate this kind of person, the kind of person who put their pride above anything else including logic. It makes you look stupid instead of cool.
Pride gak kita bawa mati. Hal simpel soal menyapa duluan tidak akan menjatuhkan harga dirimu. Sapa aja orang yang kamu kenal duluan, saja jamin tidak ada di dalam benak dia "Dasar orang gak punya harga diri." If you don't feel like saying it first, then don't and no hard feelings when he/she doesn't saying hi to you first. This world doesn't revolve just around you, for your information. Gila ya hal simpel seperti ini saja bisa bikin saya muntab sampai akhirnya meluapkan di blog ini. Karena saya sadari betul, soal pride pride an ini sudah mengakar and it goes to the wrong direction. Mengapa jadi halangan untuk menjadi berkat bagi sesama?
Entah kenapa saya selalu meyakini bahwa kita tidak akan pernah tahu bagaimana kata-kata sederhana, sikap sederhana dan hal-hal sederhana lainnya bisa membuat orang lain bahagia atau nelangsa di hari itu. Dalam hal menyapa, saya sebisa mungkin menyapa dahulu, tidak peduli jika orang tersebut tidak pernah menyapa saya duluan selama kita kenal. Because it speaks about me, not them. Menyapa duluan bukan berarti "Harga diri saya lebih rendah dari kamu that's why you should do it first." Mungkin di hari itu dia sedang melewati masa-masa sulit dan ketika kita menyapa duluan, itu membuat dia merasa dinotice, who knows. Sebaliknya, yang sering saya lakukan adalah bercanda kelewat batas (padahal bagi saya itu bercanda yang kecil, tapi bagi dia itu menyakiti hatinya) dan merusak harinya. Saya sedang belajar di area itu untuk lebih berhati-hati lagi dalam berkata-kata. Yang penting, tidak ada niatan untuk menyakiti terlebih dahulu kan.
Saya sudahi bacotan marah-marah saya kali ini karena yang saya percayai adalah apa yang keluar dari diri sayalah yang saya pertanggungjawabkan dan pikirkan. Soal bagaimana orang lain terhadap saya, saya tidak peduli.
No comments:
Post a Comment