Belakangan banyak melihat topik serupa baik di Twitter maupun Tiktok, yang akhirnya membuatku berpikir juga "iya ya, bisa nggak tuh?" Kalau ditanya pengalaman pribadi, aku pernah mengalami keduanya, dimana aku jadi suka sama orang yang aku anggap teman dekat pada saat itu, tapi ada juga teman laki-laki yang bahkan sampai detik ini pun nggak punya bayangan bakalan end-up sama salah satu dari mereka. Berangkat dari dua sudut pandang yang berbeda ini, akhirnya aku sampai pada kesimpulan, bisa enggaknya cowok dan cewek remain as a friend tergantung dari prinsip yang tidak bisa ditawar oleh kedua belah pihak, atau istilahnya dealbreaker.
Kalau dari aku pribadi, aku mendefinisikan dekat dengan seseorang adalah ketika aku share value hidup yang sama dengan dia, tentu setelah banyak perbincangan ya, nah saat aku tau orang ini sudah sefrekuensi sama aku tentang value, hal kedua adalah aku melihat apakah diriku nyaman menghabiskan lebih banyak waktu sama dia. Nggak harus ketemu, tapi misal chat intense ajalah, itu sudah beda buatku.
Disclaimer, di tulisanku ini aku tidak menyudutkan atau merendahkan nilai yang kalian anut ya, bebas aja. Kita tetap bisa berteman walaupun beda value kok, santai.
Kasus pertama
Ada orang-orang yang memiliki pandangan bahwa agama bukanlah hal utama yang patut dipertimbangkan dalam memilih pasangan hidup, tapi tidak buatku. Jadi, jika ada teman laki-laki yang sudah berbeda value di area ini, mau sedekat apapun, aku akan bisa maintain untuk tidak baper. Kalo diibaratkan, aku sudah tau di depanku ada pagar besar yang aku sendiri juga tidak mau susah-susah panjat. Adakah teman yang seperti ini sekarang? Ada. Sampai sekarang kadang masih suka curhat-curhat. Dia sudah punya pacar bahkan dan pacarnya biasa aja sama aku. Tiap kali kisah cintaku kandas, dia adalah salah satu orang yang masuk urutan teratas yang tau duluan. Gatau udah berapa kali nangis di depan dia. Apakah aku pernah baper? Samasekali tidak, udah mati rasa sih istilah jahatnya. Aku benar-benar bisa melihat dia sebagai teman bahkan saudara. Di kasus ini, man and women can be just friends.
Kasus kedua
Orang ini sangat menyenangkan, tiap kali ketemu I feel recharged. Tapi, aku menyadari bahwa aku tidak nyaman ketika harus sering-sering bertemu, dan kayaknya diapun berpikir sama, karena sebagian besar value kami berbeda. Seperti yang sudah aku katakan di awal, berbeda value tidak menghalangi kedua orang untuk berteman, tapi pasti ada "jarak" dan hal kayak gitu sangat normal terjadi. Apakah karena perbedaan value itu pernah ada pertengkaran besar? Sejauh ini tidak (dan jangan sampe juga sih ya). Apakah dia tetap orang yang aku anggap dekat? Tentu, dia salah satu teman yang cukup seru dan kebetulan ada hobi kami yang sama, so yeah. Sampai detik ini, aku juga nggak pernah baper sih sama dia, mirip dengan kasus pertama tadi. Di kasus ini juga, man and women can be just friends.
Kasus ketiga
Menurutku ini yang paling sering terjadi di khalayak umum. Aku pribadi ga pernah mengalami, tapi dari cerita-cerita aku bisa menangkap satu poin penting: intensitas. Sudahlah, witing tresno jalaran saka kulina itu benar adanya. Apalagi jika tidak ada "tembok-tembok" penghalang seperti agama, suku, ras, marga, status ekonomi, kemana-mana barengan, saling curhat, orangtua kenal, yakaliiiii (paling tidak) salah satu nggak ada rasa? Bohong banget sih. Stop being so naive, coba jujur dengan diri sendiri, pasti tau kok sedang suka seseorang atau ada gelagat berbeda dari sahabat yang mulai menjurus kesana. Jika memang mau tetap berteman, ini berat memang dilakukan, tapi set boundaries untuk sementara waktu itu penting, agar lawan kita mengerti. Menurutku, baik cewek maupun cowok ketika punya rasa suka terhadap seseorang itu sebenernya dia juga melihat adanya peluang bisa bersama walaupun tipis. Contoh paling dekat deh, aku banyak mengidolakan aktor-aktor Korea. Tapi apakah sampai bisa dibilang naksir? Engga, karena aku tau, peluangku sama mereka juga nyaris mustahil. Sekedar mengagumi fisik aja. Lah ini peluang untuk bisa bersama semakin besar bukan jika tembok-tembok penghalang lebih kecil jumlahnya? Terus akhirnya salah satu berani menyatakan, akan happy ending jika cintanya berbalas, namun persahabatan akan hancur berantakan jika bertepuk sebelah tangan. Di kasus ini, banyak yang beranggapan man and women can't be just friends.
Jadi ya begitulah, kembali ke seberapa besar kita berani menetapkan batasan serta hal-hal prinsipil yang tidak bisa ditawar jika berhubungan dengan lawan jenis.
No comments:
Post a Comment