Pas tau dapet tema ini, yang ada di kepalaku hanya ada satu sosok.
VINCENT VAN GOGH
Berawal dari aku yang tidak sengaja melihat lukisannya di internet. Lukisan ini cukup terkenal, hanya menampilkan bunga-bunga matahari di dalam vas bertuliskan nama "Vincent" yang diletakkan di atas meja. Daridulu suka bingung sama orang yang katanya "menikmati" lukisan dengan menatapnya lama-lama, bahkan sampai ada yang bisa menafsirkan apa yang ingin disampaikan pelukis melalui kanvas tersebut. Akhirnya aku mengalami sendiri "oh ini ya rasanya mengagumi lukisan" saat melihat ini, yah walaupun baru lihat secara online, someday harus lihat aslinya langsung. Ternyata Sunflowers ini bahkan punya 5 versi berbeda karena merupakan salah satu project van Gogh melakukan eksperimen warna, tapi yang successfully catch my attention yang versi ini.
![]() |
| Vincent van Gogh, Sunflowers, 1888 |
Vincent van Gogh bisa dibilang late bloomer terjun ke dunia melukis di usia sekitar 20 tahun. Di film biografinya digambarkan dia ini setiap hari harus melukis, karena kalo engga, dia bisa gila sendiri. Cara dia menggoreskan pensil / kuas juga relatif cepat, sekilas kayak orang yang terburu-buru. Jadi bisa dibayangin sebanyak apa lukisannya sampai ia meninggal di usia 37 tahun. Vincent seakan bilang ke dunia bahwa tidak ada kata terlambat untuk menemukan apa yang menjadi passion serta panggilan, dan itu ngena di aku karena sampai saat ini aku belum benar-benar menemukan passionku dimana, belum ada hal yang membuat jantung berdegup kencang bahagia saat melakukannya. But that's okay, aku pribadi juga tidak akan hidup hanya untuk mencari passion, aku yakin di moment yang tepat, aku akan tahu.
Lukisannya yang berjudul Starry Night dipercaya para ahli mengandung ilmu matematika di dalamnya. Aku pas pertama kali tahu juga bingung gimana ceritanya seni ada hubungannya sama angka. Penjelasannya agak njelimet, tapi yang aku tangkap kemungkinan Starry Night adalah apa yang van Gogh tangkap dari pantulan cahaya yang ditangkap oleh dirinya. Mengapa nampak berbeda, karena van Gogh diduga memiliki mental illness (that's why dia juga nekat banget potong telinga kirinya terus dikirim ke temennya). Mungkin diibaratkan seperti orang yang dibawah pengaruh narkoba gitu ya, melihat sekitar seperti berkunang-kunang, muter, pokoknya gak jelas deh. Nah pantulan cahaya itu tadi yang diyakini ada hubungannya dengan Matematika (duh maaf ya penjelasanku tidak bombastis, kalo penasaran silakan klik disini aja untuk lihat videonya langsung hehehee *si males banyak bicara*). Fenomena ini mengingatkanku sama Yayoi Kusama, artist dari Jepang dimana sebagian besar karyanya berpola polkadot. Hal itu karena sejak 10 tahun, Yayoi Kusama mengalami halusinasi yang membawanya melihat sekitarnya dengan pola polkadot. Memandang sesuatu dari sudut pandang yang lain dan berani menyuarakan hal tersebut melalui karya buatku bukan hal yang mudah. Risiko di cap aneh itu pasti ada, bahkan van Gogh sempat diasingkan oleh tetangga di sekitarnya. Setiap kita aku yakin punya cara pandang tersendiri terhadap sesuatu, tapi society menekan itu semua, seakan memaksa diri kita untuk menjadi "normal". Akhirnya banyak yang takut menunjukkan true colorsnya.
![]() |
| Vincent van Gogh, Starry Night, 1889 |
Terinspirasi juga sama salah satu kalimat van Gogh yang dia ucapkan ketika semua orang memandang lukisan-lukisannya jelek, tidak layak jual, tidak akan ada yang membeli:
"Maybe God made me a painter for people who aren't born yet"
Aku pas pertama kali denger kayak yang, wow, YES YOU ARE, SIR! Karena semasa dia hidup, dari ratusan lukisan yang dia buat, bayangkan hanya ada 1 lukisan terjual. Tapi setelah meninggal, namanya baru didengar di seluruh penjuru dunia. Bahkan saat ini di Amsterdam punya "Van Gogh Museum", menampilkan seluruh karyanya. Dari 30 lukisan termahal di dunia yang pernah terjual, 4 lukisan diantaranya adalah karya Vincent van Gogh. Miris banget, padahal waktu hidup dulu kesulitan ekonomi parah sampe minta adiknya, Theo van Gogh buat bayarin biaya hidup sehari-hari. It hits me way harder. Aku sering banget merasa insignificant di tempatku sekarang berada. Selalu ada yang lebih baik, lebih pintar, lebih cantik, lebih kurus, dan lebih-lebih lainnya. Mungkin aku tidak akan menjadi seterkenal Vincent van Gogh, tapi kalau aku tekun melakukan apa yang dipercayakan ke aku sekarang, tidak ada yang tahu kan, bisa saja aku sudah tolong banyak orang tanpa aku sadari. Menulis blog ini sebenarnya juga salah satu peninggalan, if someday in the future ada yang baca dan yang kutulis merhema dalam kehidupan si pembaca, itu juga salah satu wujud aku menjalankan tujuan hidupku.



No comments:
Post a Comment