Belakangan ini saya lumayan sering buka salah satu akun Instagram (yap, Instagram bisa dibuka melalui web tanpa harus punya akun, so I can stalk you *evil laugh) seorang artis yang baru saja punya pacar karena menurut saya mereka cocok dan entah kenapa senang lihatnya. Namun ternyata, mereka berdua beda keyakinan. Saya juga sering buka Instagram Raisa yang tidak pernah aneh-aneh dan selalu cantik (bingung saya sama dia ini makan apa ya dulu waktu kecil). Ketika saya mencoba membuka kolom komen salah satu foto, mereka-mereka ini, saya menyadari bahwa memang sepertinya ada manusia-manusia yang belum sadar bahwa hidupnya terbatas dan di tengah-tengah keterbatasan itu, mereka masih sempat melakukan kegiatan tidak berguna dan sangat bodoh: bad comments.
Di post ini, saya tidak memihak ras, agama, atau suku tertentu, namun memihak pada common sense saja. Bad comments bisa kita jumpai di mana saja dengan berbagai level jahat, sok tau, menghakimi dan pedas. Saya tidak tahu orang lain bagaimana, tapi setiap kali saya baca bad comments rasanya seperti ikutan emosi juga, padahal komen tersebut bukan untuk saya. Bad comments ini banyak macamnya namun saya paling gerah kalau sudah ada imbisil-imbisil yang berusaha mengingatkan sesamanya (kebanyakan dalam hal beragama, dalam hal lain juga ada namun tidak sering) pakai kata-kata kasar, umpatan, full capslock dan tidak ketinggalan tanda baca prvokatif seperti "!!!!!!!" "??!!". Lalu ketika di confront, selalu saja menghindar dengan kalimat "'kan sesama manusia harus saling mengingatkan"
Wahai manusia yang ingin mengingatkan sesamanya, yuk sebelum berinisiatif mengingatkan, belajar bedakan dulu mana yang memang beneran mengingatkan, mana yang mau ngajak berantem. Ini adalah mantra sederhana yang selalu saya ucapkan ke diri saya sendiri bahwa jika keadaannya dibalik, apakah saya mau? Apakah saya terima? Lagian, mana ada orang yang mau mendengarkan orang lain yang mengingatkan mereka dengan nada tinggi seperti itu. Saya juga memiliki pemahaman bahwa tidak semua orang punya "pintu" untuk membiarkan orang lain ikut campur atau bahkan diingatkan oleh sesamanya.
Analoginya begini, ada 3 jenis pintu yang akan ditemui:
1. Pintu yang diketuk dan dibuka
2. Pintu yang setelah diketuk tak kunjung terbuka
3. Tidak ada pintu
Nah, dari 3 pintu diatas, kalimat "kan sesama manusia harus saling mengingatkan" mungkin akan bisa masuk di pintu 1 dan 2, selama kita mengetuk terlebih dahulu. Namun, menurut saya, kolom komen di sosial media bukanlah cara yang tepat untuk mengingatkan, karena kita tidak bisa mengetuk terlebih dahulu. Mengetuk disini yang saya maksud adalah kita kenal siapa dia, bagaimana kesehariannya, bagaimana cara dia dalam menghadapi masalah, dll.
Di kolom komentar baik ke yang punya akun dan user lain (ini yang paling konyol dan epic sih, bertengkar dengan user lain) kan kenal saja tidak, tahu kesehariannya juga tidak, nilai - nilai yang diambil apalagi. Iya kalau orang tersebut punya pintu tipe 1 / 2 yang hanya dengan mengetuk bisa / akan terbuka, lah kalau tipe 3? Apa tidak sama saja bicara dengan tembok? Susah-susah cari pembenaran, research sana sini, defend habis-habisan, jempol pegel ketik panjang dengan niat "saling mengingatkan", ternyata tidak ada bedanya sama orang gila :))
Lalu, bagaimana dong jika bertemu dengan orang dengan pintu nomor 3 yang sudah diingatkan baik-baik tapi tetap saja? Just let them be. Menurut saya, bukan hal yang keliru ketika kita sudah melakukan porsi kita sebagai sesama manusia untuk saling mengingatkan namun mereka memilih untuk tidak mendengarkan. Justru akan menjadi salah ketika kita paksakan nilai yang benar ke mereka, karena pasti tidak akan masuk dan jadi bumerang buat diri sendiri (nambah musuh, bahkan mungkin tidak punya celah lagi untuk mengingatkan). Saya selalu yakin ketika kita berusaha menabur sesuatu yang baik ke orang lain, sesungguhnya tanpa kita sadari, itu akan tertanam di mereka, hanya mungkin kapan tumbuh dan berbuahnya bukan porsi kita untuk melihat atau bahkan ikut menikmati.
Kolom komentar di sosial media manapun bagi saya pribadi bukanlah tempat yang pantas dan terkesan tidak sopan, terutama jika kita "main samber" komen user lain itu sama saja seperti tidak diajak bicara tapi ikut bicara. Yang saya penasaran, apa sih yang diharapkan dari komen seperti itu? Panggung? You stole the spotlight in a disgusting way, I think. Apa tidak pernah terlintas bahwa tepat di sebelah komentar yang dilontarkan, itu tertera username sendiri loh! Which is memicu orang lain untuk menilai kita (dengan cepat) bukan? So watch out with your words guys. Some people take it seriously and they can sue you (worst scenario) if they want to. Mari ciptakan lingkungan internet yang sehat dan sejuk dilihat :)


No comments:
Post a Comment