18 December 2021

Day 12 #30DaysWritingChallenge - What life lesson did you learn the hard way?

I think 80% my life lessons learned in the hard way deh hahhahaha. Anaknya keras kepala banget, kalo ga kepentok sendiri, ga akan stop walaupun tau itu salah (jangan ditiru ya, adik-adik). 

But the biggest one I think is never love someone more than you love God and yourself. 

Iya aku tau ini basic, tapi butuh sekitar 3-4 hubungan yang kandas terlebih dahulu, lalu aku hancur lebur, baru tidak hanya sekedar tahu tapi memahami benar value tersebut. 

Banyak pemahaman-pemahaman yang terbuka setelah aku beneran mengerti, seperti misal ternyata aku belum sayang sama diri sendiri segitunya. Masih ada penolakan di beberapa aspek dalam hidupku, dan aku berharap orang lain (dalam konteks ini, pasangan) yang akan menerima dan mengisinya. Well, tidak ada manusia satupun yang berkewajiban dan mampu memenuhi mandat tersebut, even our significant other yang sudah diikat janji suci pernikahan sekalipun. Jadi tugasku dengan diriku sendiri untuk either work it out untuk sesuatu yang bisa diubah / dikendalikan or deal with it untuk yang sebaliknya. Loving myself means aku tidak lagi menuntut apapun dari pasangan, karena nanti ketika Tuhan ijinkan sosok itu datang, kami adalah dua orang yang sudah bahagia dengan diri sendiri yang lalu memutuskan untuk bahagia bersama, bukan saling membahagiakan. Yes, berarti juga jika memang aku ditakdirkan untuk menjadi single seumur hidup, aku juga bisa bahagia dengan hubunganku dengan Tuhan dan diriku sendiri. 

Loving myself juga berarti aku terus mengusahakan yang baik buat diriku. Ngerasa gak gesit selama melakukan aktivitas sehari-hari dan akhirnya produktifitas menurun? Oke saatnya diet. Aku sedang belajar mindset diet bukan karena aku benci diriku dengan ukuran yang sekarang, tapi justru karena aku sayang sama diriku, aku tidak akan membiarkan diriku tidak produktif. 

Ketika aku menempatkan diri di bawah siapapun, aku jadi gak bisa menunjukkan ke mereka bagaimana cara sayang sama aku yang benar. In the end, all we have are Him and ourself, tidak akan ada manusia yang punya kemampuan sekuat itu untuk mencintai manusia lain. Kita juga jangan pernah merasa paling bisa sayang sama orang 100% mentang-mentang pernah disakitin dulu. Coba telisik lebih dalam, sayang sama orang itu karena memang apa adanya dia, atau karena the idea of him/her

Atau bahkan kita bukan sayang sama orangnya, tapi sayang dengan versi kita di mata dia? 

Agak complicated tapi coba aku simplify. Misal kasusku, aku berada di hubungan ini ketika aku tidak sayang dengan diriku, lalu dia memperlakukanku bak tuan putri lah intinya. Dihujani oleh cinta, pujian, gestur tubuh yang aku pribadi akui paling membuatku tersentuh. Lalu ketika putus dan membuatku hancur berkeping-keping, aku sadar, aku sayang sama dia bukan karena apa adanya dia, tapi karena dia berhasil membuatku merasa seperti orang yang paling dicintai. Well, it's not his job at the first place, tapi aku membiarkan dia melakukannya, yang tanpa aku sadari sama dengan memberikan pistol berisi peluru yang kapan aja bisa ditembakkan ke aku, and he did.

So yeah, jangan jadi orang keras kepala kayak aku yang harus mengorbankan hati serta waktu untuk menata hidup kembali. Belajar mendengarkan ketika ada yang mengingatkanmu, tapi juga jangan semua dimasukkan ke hati. Tidak semua orang punya maksud baik ke kita, jadi belajar filter dan lakukan yang benar.

No comments: