02 September 2025

Tiga puluh.

     Menginjak usia 30, aku kira yang berubah hanya sesimpel metabolisme tubuh yang melambat dan makin lebih mudah gemuk. Turns out, it was not that simple. Hidupku dan cara pandangku kayak direset, pemahaman tentang dunia dan terlebih caraku memandang diri sendiri, jadi berubah 180 derajat. The trigger? Kali ini soal friendship, ya ada sih bumbu-bumbu masalah perasaan juga. Sudah ngga lagi menyalahkan pihak-pihak pencetus, tapi lebih ke aku kali ini benar-benar perlu melihat ke diriku sendiri.

     Aku tipe yang gampang baik ke orang lain, tapi sangat kejam ke diri sendiri. Aku terbiasa mematikan suara diri, karena sebenci itu aku sama apa yang dia bilang terutama ketika aku lagi sedih, marah, kecewa, dan emosi-emosi kurang menyenangkan lainnya. Kalo aku nurutin hatiku,aku merasa jahat, padahal aku tau yang bener gimana. Akhirnya aku mensubtitusi suara diriku dengan suara orang lain, yang akhirnya, tanpa aku sadari, mendefine siapa diriku, which is sangat horror. Baru kusadari, itu adalah wujudku meminta validasi, karena aku ngga pernah tau cara validasi perasaan sendiri. Ketika trigger itu membuatku kecewa, aku ngga langsung bisa menerima bahwa diriku sedang kecewa. Aku menolak kenyataan bahwa aku sedih, kecewa, marah karena takut kehilangan orang-orang ini. Deep down aku tau kalo aku membiarkan diriku merasakan, they wouldn't move an inch, and it terrified me. Aku pendam, tahan sendirian dan bahkan berusaha mencoba mengerti posisi mereka. Works sih, hanya dua bulan setelah itu BOOM! It was a chaotic moment for me. I fell into depression. Beberapa momen linglung, karena ternyata suara diriku — yang selama ini aku bungkam, tiba-tiba berteriak begitu kencangnya dalam wujud aku nangis tanpa tau aku ini kenapa. Setelah melalui beberapa sesi psikolog dan konseling, barulah aku tau bahwa aku skipped the grieve. Tidak hanya skip, tapi juga I was too hard on myself dengan bilang "Bener kah kamu semarah ini sama mereka? Mereka ga salah kok, kenapa kamu marah?""Kamu juga ada salahnya ke mereka, apa hakmu semarah ini?" dan sejenisnya. Aku kira dengan "memarahi" diri sendiri akan jadi reminder buat aku but no, it worsened the situation even more.

    Dalam waktu memproses grieve itu, akhirnya aku harus menghadapi emosi yang selama ini aku pendam dan hindari untuk rasakan. It was such a mess, suicidal thoughts came sometimes. Akhirnya sadar, I need to let go of these people, bukan karena mereka salah, but I had enough. I need to work on myself too, in order not to hurt them more. Aku pun memutuskan untuk tidak menjelaskan apa-apa, karena merekapun juga ga bertanya lebih lanjut, plus aku merasa aneh aja harus tiba-tiba datang and made everything clear. Konten yg mau aku sampaikan juga got nothing to do with them, so buat apa? For the first time, I decided to left without any explanation. Jujur awalnya sedih, takut orang lain bakalan mikir apa, tapi at the same time I had the courage to still do it anyway.
    Puji Tuhan, sekarang setelah memutuskan untuk menyudahi ini semua sepihak, I feel lighter. Unexpectedly, karena keputusan besar itu, ada beberapa hal yang ikut berubah juga, tanpa aku sadari:

1. Aku diminta berlatih untuk afirmasi diri, mengingat hal-hal positif dalam diriku sehingga aku bisa lebih sayang sama diri sendiri. Aku bisa melihat aku tidak seburuk itu, so I don't need to be hard on myself anymore, termasuk dalam hal regulasi emosi. Kalo sedih, let it sink for a while. Tidak perlu langsung ditolak mentah-mentah dan menyalahkan diri berlebih. Dalam mindfulness, emosi digambarkan kayak awan dan kita adalah langitnya. Biarin aja awan itu lewat, hanya perlu diamati tanpa perlu ikut larut atau bahkan berubah jadi awan juga. Dengan demikian, aku lebih bisa menerima diriku sendiri dan segala emosi yang sempat hinggap. Aku juga berkesempatan menenangkan diri (thanks to Trauma Processing Therapy method), dimana aku berdialog dengan innerchildku dengan bahasa yang lebih sehat. 

2. Kebutuhanku akan kehadiran dan "suara" orang lain dalam hidupku sudah lumayan berkurang, karena saat ini aku punya keterampilan mengelola emosi dan validasi diri sendiri lebih baik. Masih tetep sih kadang butuh chanelling buat mencurahkan (which is masih dalam taraf wajar), namun aku sudah tidak lagi membebani mereka dengan ekspektasiku atas respon mereka. Akhirnya relasiku juga lebih ringan dan santai, tidak terlalu menganggap serius semua omongan.

3. Dulu aku sebenci itu sama yoga. Berjanji sama diri sendiri mau diajakin sekeras apapun, aku akan say no. Setelah rentetan kejadian kemarin, aku malah keranjingan yoga, kalo ga yoga rasanya kayak ada yang kurang lengkap. Di yoga aku belajar fokus sama pernafasan. Gerakan mah masih payah, sampai saat ini ditulis pun badanku ga selentur itu. Tapi di yoga diajarkan buat mindful sama proses diri sendiri dan mencintai every step of the journey. Goalsnya bukan bisa peak pose, tapi bisa enjoy dengan proses yang saat ini. Aku baru menyadari ini setelah mulai rutin yoga, ternyata align dengan apa yang sedang aku pelajari saat ini. Selain itu aku jadi punya semangat baru karena ada something new yg aku pelajari. Aku excited dengan progressku sendiri kalo aku rutin latian.

4. Dulu, genre favoritku adalah crime-thriller drama/documenter karena aku suka membedah how people thinks. Sekarang, karena ada perubahan-perubahan diatas, surprisingly, selera tontonanku juga berubah. Lebih suka yang ringan, kayak romcom atau slice of life. Nyobain nonton crime thriller lagi ternyata tidak se-enjoy biasanya. Mungkin karena, aku sudah nggak sepengen tahu itu cara orang berpikir. Mungkin karena aku sudah perlahan berhenti mencoba berasumsi dan mulai bertanya dengan baik kalau memang aku merasa ada yang perlu dijelaskan, jadi akupun tidak menebak-nebak. Mungkin aku juga sudah mulai belajar menerima, as long as the don't say it to my face, it means it's not my problem and I don't need to guess or read between the lines.

5. My long-forgotten hobby: reading! Sepuluh tahun terakhir, bacaanku serius nih kategorinya: self-help, Christianity, psychology, self-development, dan sejenisnya. Ngga ada yang salah dengan bacaannya, tapi motivasiku untuk baca yang kurang tepat: I always feel I'm constantly under maintenance. Akhirnya aku selalu berusaha mengoreksi diri sendiri, keras dan marahin diri sendiri karena selalu merasa ada yang salah dalam diriku, dan dengan kesalahan-kesalahan itu, aku bukan sosok yang layak untuk dicintai. Seorang temen secara random merekomendasikan buku fiksi and I enjoyed every page of it.

Dari perubahan-perubahan itu semua, aku berkesimpulan I think I do really need relax for a bit. Cut a slack, nothing and no one to hold too tight, enjoy every obstacle that comes to my life.

Let's see in 10 years, what would I be?


 

No comments: